konon adalah seorang pedagang dari Siantar Matio bernama Parboniaga Sipunjung. ia sering berdagang ke berbagai tempat di Uluan dan sesekali pergi ke Simalungun.
Parboniaga sudah berkeluarga. ia memiliki tiga anak. Anak ketiga bernama Aji Urung adalah anak yang paling ia sayangi. selain itu, ia juga memiliki seorang anak asuh, anak perempuan bernama Si Sanggaranian. Dinamai demikian karena wajahnya yang sangat cantik dan kuning seperti sanggar (pimping). Karena Sanggaranian bukanlah anak kandungnya, maka Parboniaga selalu meminta Sanggaranian untuk memanggilnya dengan sebutan amang ito.
suatu hari Sanggaranian asik bernyanyi dan menari di halaman rumah bersama dengan para gadis desa lain menggoda para pemuda di kampungnya. Tiba – tiba seorang pemuda datang dari belakang dan langsung menggendongnya dan memisahkannya dari teman-temannya.
Sanggaranian yang tidak senang dengan cara pemuda itu kemudian marah. Walau sang pemuda sudah meminta maaf dengan alasan “Saya hanya sangat gemas melihat ito, sehingga saya tidak sengaja melakukannnya”. Tapi tetap saja Sanggaranian tidak terima. Parboniaga yang menyaksikan dari kejauhan sengaja tidak ikut campur. Ia ingin tahu bagaimana Sanggaranian akan menyelesaikan masalahnya.
Sebagai permintaaan maaf, Sanggaranian meminta pemuda itu memberi makan (mangindahani) warga sekampung. Terang saja pemuda itu keberatan, karena dia tidak sanggup melakukannya. Tapi si sanggaranian tetap bersikeras. Akhirnya Parboniaga turun menengahi.
“Tidak baik menghukumnya seperti itu. Cukuplah kita menasehatinya saja.” ucap si Parboniaga.
Malam harinya Sanggaranian bermimpi. Dalam mimpinya, pemuda yang mengganggunya itu masuk ke dalam rumahnya ketika Parboniaga sedang pergi berdagang. Ia menculik Sanggaranian dan membawanya kabur dari kampung.
Pagi harinya Sanggaranian menceritakan hal ini kepada Parboniaga.
“amang ito, saya takut kalau mimpi saya nanti jadi kenyataan. Tolong jangan tinggalkan saya. Bagaimana kalau pemuda itu benar-benar menculik saya ketika amang ito sedang pergi berdagang? Bawalah saya bersama amang ito berdagang. “
Akhirnya sejak saat itu, Sanggaranian selalu ikut jika Parboniaga pergi berdagang. Dan setiap mereka berdagang, dagangan mereka selalu laris keras. Banyak orang tertarik dengan kecantikan Sanggaranian. Orang-orang selalu berkumpul di tempat dagangan mereka walau hanya untuk dapat melihat Sanggaranian.
Suatu hari Parboniaga berencana pergi berdagang ke Simalungun. Ia bersama dengan para pembantunya mempersiapkan segala keperluan. Mereka membawa dua ekor kuda dalam perjalanan. Satu untuk Parboniaga dan satu lagi untuk Sanggaranian.
Rombongan Parboniaga berjalan menusuri kaki gunung Simanuk-manuk. Dan malam harinya mereka beristirahat di kaki gunung simanuk-manuk. Malam itu Parboniaga dan Sanggaranian lupa dan khilaf akan status mereka yang mar-ito. Dosa pun tak dapat terelakkan dan mereka melakukan hubungan layaknya suami istri yang sebenarnya tidak pantas mereka lakukan.
Selang beberapa hari kemudian, mereka sampai ke Ajibata. Disini dagangan mereka laku keras. Belum setengah hari, setengah modal sudah kembali. Hari berikutnya mereka sampai ke Silampiang. Disini mereka mendapat pondok dari warga setempat yang baik hati. Disini mereka tinggal untuk waktu yang cukup lama. Jika ada yang bertanya, Parboniaga akan mengatakan kalau Sanggaranian itu itonya. bukan istrinya.
Di Silampiang, dagangan Parboniaga laku keras karena setiap orang yang melintas selalu tertarik dengan kecantikan Sanggaranian yang selalu ia bawa. Mereka selalu singgah dan membeli satu dua barang hanya untuk bisa bercengkrama dengan Sanggaranian. Parboniaga sendiri yang sudah semakin sukses tidak sulit untuk mendapatkan gadis desa tersebut. Ia akhirnya menikahi boru Saragih, anak seorang Raja dari daerah setempat.
Sekarang Parboniaga sudah sukses. Ia tidak lagi mau berdagang. Dagangannya diserahkan kepada para pembantunya, sementara dia lebih suka bermain judi yang memang salah satu ciri anak raja pada saat itu.
Satu per satu orang kaya di Silampiang dikalahkannya. Semua lawannya dapat dikalahkan dengan mudah. Mereka tidak bisa konsentrasi bermain karena mata mereka selalu terpaku pada Sanggaranian dan Boru Saragih yang selalu mendampingi Parboniaga.
Setelah tidak ada lagi lawan di Silampiang, Parboniaga kemudian pergi ke daerah Pamatang. Disana dia disambut Raja Sitanggang, yang menjadi Raja di daerah tersebut. Parboniaga menantang Raja tersebut untuk bermain judi dengannya. Setelah bermain semalam suntuk, dia berhasil mengalahkan Raja tersebut. Karena masih penasaran, Raja tersebut mengajak Parboniaga untuk kembali bermain. Taruhannya, Jika Raja itu menang, maka Sanggaranian dan Boru Saragih menjadi miliknya. Sebagai gantinya, kalau Parboniaga menang, Harta, sawah dan Rumah serta jabatannya sebagai Raja akan jadi milik Parboniaga.
Raja tersebut akhirnya kalah dan bangkrut. Parboniaga akhirnya berhak atas gelar Raja di daerah tersebut. Namun karena dia sudah cukup tua, maka ia memanggil anaknya Aji Urung dari Siantar Matio untuk menjadi Raja di daerah tersebut. Karena Aji Urung berasal dari Siantar Matio maka nama daerah Pematang diganti menjadi Pematang Siantar.
Hari-hari berikutnya Sanggaranian sering merenungi nasibnya yang buruk. Tidak ada satupun pemuda yang datang melamarnya. Sementara dia harus menanggung dosa dari perbuatannya dengan amang itonya. Di depan umum, Sanggaranian dan Parboniaga selalu bersikap seperti bersaudara (mariboto) namun dibelakang, Sanggaranian diperlakukan layaknya istri oleh Parboniaga.
Setelah Parboniaga meninggal, Sanggaranian sering menghabiskan waktu dengan berendam di sebuah kolam, di dekat tempat ia tinggal. Suatu hari ketika ia sedang berendam disana, sebuah anak panah jatuh dari ranting pohon hariara dan melukai wajah Sanggaranian.
Semakin lama luka di wajah sanggaranian semakin membesar dan membengkak. Wajah sanggaranian semakin hancur karena luka tersebut. Selain itu, kulit tubuhnya pun terkelupas setiap hari. kakinya melepuh dan semakin hari semakin menyatu.
Bermacam obat dan berbagai dukun telah didatangkan dari penjuru Pematang Siantar untuk mengobatinya namun tak satupun yang berhasil. Orang-orang kerajaan yang melihat hal itu merasa sedih dan iba terhadap Sanggaranian. Akhirnya ditengah keputus-asaan, Sanggaranian meminta amang itonya untuk membawanya ke pemandian tempat ia biasa menyendiri.
Keluarganya kemudian membawanya kesana. Ia lalu asik berenang-renang di pemandian itu. Setelah asik berenang seharian, amang itonya mengajaknya pulang. Namun dia menolak.
“Biarlah saya tetap disini. Saya merasa nyaman tinggal disini. Saya mau tinggal disini.”
Akhirnya warga berangsur-angsur meninggalkan Sanggaranian disana. Dan pemandian itu menjadi tempat tinggal Sanggaranian seterusnya. Suatu hari ketika seorang pemuda sedang mandi di pemandian tersebut, Sanggaranian memanggilnya. Ia meminta pemuda itu mengumpulkan keluarga dan warga sekampung di pemandian itu. Tak lama berselang seluruh keluarga dan warga setempat telah berkerumun di pemandian itu. Mereka merasa sedih dan terkejut melihat kondisi Sanggaranian yang sekarang. Seluruh tubuhnya, dari badan sampai kaki telah berubah menjadi seekor ular kecuali bagian kepala.Sekarang ia lebih mirip dengan seekor ular berkepala manusia. Sanggaranian lalu berkata;
“Amang Naposo lahi manurung, Eda boru Saragih, semua yang ada disini. Sudah tiba waktunya saya pergi. Dosaku dan dosa Dosa Parboniaga adalah dosa yang tidak dapat dihapus. Semua ini akan menjadi cerita dan hukuman di masa yang akan datang. Maka dari sekarang tak akan ada lagi perempuan cantik yang lahir dari leluhur kita. Inilah kutuknya. Selamat tinggal.”
Detik berikutnya, Kepala Sanggaranian berubah menjadi ular. Ia telah menjadi ular sepenuhnya. Lalu tubuhnya tenggelam ke dasar kolam dan menghilang.
Minggu, 01 Januari 2012
Sahang Maima dan Datu Dalu
Sahang Maima dan Datu Dalu adalah keturunan ke-9 dari Si Raja Batak. Mereka berdua bersaudara. Mereka memiliki sebuah tombak warisan leluhur mereka yang dijaga oleh Sahang Maima. Suatu hari Datu Dalu meminjam tombak tersebut untuk membunuh seekor babi hutan yang sering merusak kebun miliknya. Sahang maima lalu meminjamkannya dengan catatan jangan sampai rusak.
Lalu berangkatlah Datu Dalu berburu babi hutan tersebut ke dalam hutan. Dia menghujamkan tombak tersebut ke tubuh Babi hutan itu. Sayangnya babi hutan itu tidak mati. Dia berhasil kabur dengan mata tombak menancap di tubuhnya.
Datu dalu bingung kemana harus mencari babi hutan tersebut. Sebab ia harus mencabut mata tombak tersebut sebelum mengembalikannya kepada saudaranya. Setelah lelah mencari namun tidak juga ketemu, akhirnya ia memutuskan untuk membuatkan mata tombak yang baru.
Sahang Maima merasa kalau Datu Dalu terlalu lama mengembalikan tombaknya. Dia lalu menemui Datu Dalu. Datu Dalu lalu menjelaskan kalau mata tombak itu terlepas dari gagangnya dan menempel di tubuh babi yang ia buru. Dan dia telah membuatkan mata yang baru sebagai gantinya. Tapi ternyata Sahang Maima tidak bisa terima.
“Barang itu tidak bisa hilang. Sebab itu adalah barang warisan.” Begitu alasan Sahang Maima.
“Saya tahu, bang. Tapi tombak itu kan sudah tua, kayunya sudah lapuk dan mata tombak itu sudah tidak menempel dengan kuat lagi. Wajarlah jika mata tombak itu terlepas.”
“Tidak boleh begitu. Barang yang kamu pinjam, itu yang harus kembali. Tidak boleh diganti dengan barang apapun. Bagaimana barang itu kamu pinjam, begitu pula barang itu harus kembali.” Kata Sahang Maima bersikeras.
Akhirnya Datu Dalu mengalah. Ia lalu pergi mencari babi hutan tersebut. Menurut cerita yang banyak dituliskan dalam buku-buku dan kitab sejarah orang batak, Datu Dalu turun ke Banua Toru untuk mencari petunjuk tentang keberadaan mata tombak itu.
Disana ia bertemu dengan seorang Gadis penumbuk padi yang sedang bertengkar dengan seorang wanita. Gadis penumbuk padi ini tidak sengaja membunuh ayam milik wanita ini ketika ia mengusir ayam tersebut. Wanita pemilik ayam tidak terima. Dia meminta gadis penumbuk padi ini untuk mengembalikan ayam itu dalam keadaan hidup. Gadis penumbuk padi itu menolak karena merasa permintaan si wanita tidak masuk akal.
Datu dalu lalu menghampiri gadis penumbuk padi itu. Datu dalu berjanji akan menolong si gadis penumbuk padi itu jika ia bersedia membantu Datu Dalu.
“Saya sedang mencari seekor babi hutan. Beberapa hari yang lalu saya menombaknya. Tetapi mata tombak saya tertinggal dan menempel di tubuhnya. Bisakah anda membantu saya mencari tahu dimana babi hutan itu berada ?”
“Di sana, di rumah yang berada di ujung desa itu, ada seorang nenek tua yang terluka terkena mata tombak. Kau bisa mendapatkan mata tombak mu disana.” Kata si gadis itu.
“Tapi yang saya tombak itu adalah babi hutan, bukan manusia.”
Lalu si gadis itu menjelaskan kalau nenek tua itu adalah siluman jahat yang bisa berubah menjadi apapun.
“Baiklah kalau begitu” kata si Gadis penumbuk padi. “Saya sudah membantu tuan, sekarang tolong buktikan kalau tuan bisa menepati janji tuan.”
Dengan kemampuan sihir yang dimilikinya, Datu Dalu berhasil menghidupkan kembali ayam tersebut. Setelah itu si Gadis penumbuk padi bersedia mengantarkan Datu Dalu ke rumah nenek tua itu. Disana Datu Dalu baru yakin kalau ternyata benar mata tombak yang menempel di tubuh nenek itu adalah mata tombak milik abangnya. Datu dalu kemudian mencabut mata tombak itu menggunakan sambilu. Sebelum pergi, Datu Dalu mengobati nenek tua itu. Sebagai balasannya nenek tua itu berjanji tidak akan pernah mengganggu desa Datu Dalu lagi. Akhirnya Datu Dalu berhasil mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya. Dan sejak itu hubungan antara mereka mulai retak.
Suatu hari Sahang Maima sedang melakukan pesta di desanya. Istrinya pergi ke pasar melintasi kebun milik Datu Dalu. Ketika berada di kebun Datu Dalu, hujan deras turun. Istri Sahang maima lalu memotong selembar daun pisang untuk digunakan sebagai payung. Datu Dalu yang mengetahui hal tersebut marah besar lalu meminta istri Sahang Maima untuk mengembalikan daun pisang tersebut ke pohonnya seperti semula. Mendengar ucapan Datu Dalu, Sahang Maima berang.
“Aku tahu kamu dendam. Tetapi jika kau marah janganlah marah kepada istriku.” Kata Sahang Maima
“Bukankah abang yang bilang, barang yang diambil harus kembali seperti semula?” Kata Datu Dalu.
Maka terjadilah perang terbuka antara mereka berdua. Sahang Maima menerbangkan 7 tampi ke arah desa Datu Dalu. Mendengar suara menderu di langit, Datu Dalu mempersiapkan pertahanan. Dengan kemampuan sihirnya, ia menolak tampi-tampi itu dari desanya sehingga tidak ada satupun lesung yang jatuh di desanya. Datu Dalu kemudian membalas dengan menerbangkan 14 Alu (Andalu) ke arah desa Sahang Maima. Sahang Maima berhasil menolak seluruh Andalu tersebut sehingga semuanya jatuh di luar desanya.
Sahang Maima kembali melakukan perlawanan. 7 batang kayu api yang membara (sipu – sipu) diterbangkan untuk membumihanguskan desa Datu Dalu. Namun ternyata Datu Dalu berhasil menyingkirkan sipu-sipu itu sehingga tidak membakar desanya. Berikutnya Datu Dalu membalas dengan menerbangkan 14 sipu-sipu ke arah desa Sahang Maima namun juga berhasil ditolak.
Kemudian Sahang Maima menerbangkan 7 piring berisi serbuk beracun. Datu Dalu berhasil menghalaunya sehingga tidak jatuh di desanya. Datu Dalu lalu membalas dengan 14 piring berisi serbuk beracun. Tapi Sahang Maima berhasil menyingkirkannya.
Puncaknya Sahang Maima menerbangkan Lesung dengan sayap 7 tampi dan 7 piring berisi serbuk beracun ke arah desa Datu Dalu. Datu Dalu sendiri membalas dengan menerbangkan Lesung tujuh lobang berisi serbuk beracun dan bersayap 14 tampi. Kedua senjata mereka bertarung di langit menimbulkan suara gemuruh yang sangat memekakan telinga.
Kedua lesung tersebut kemudian jatuh. Satu jatuh di desa Sahang Maima dan satu lesung jatuh di Desa Datu Dalu. Seluruh warga yang panik lari berhamburan dari desa menyelamatkan diri. Serangan itu menimbulkan cekungan yang sangat besar di desa mereka. Warga sekitar menyebutnya ambar. Mereka menamainya Ambar Silosung dan Ambar Sipinggan. Sekarang ambar tersebut dapat ditemui di Lintong ni Huta, sebelah kiri Jalan Raya Siborong-borong – Dolok sanggul. Ambar Sipinggan berada di sisi kiri jalan sedangkan Ambar Silosung berada di sebelah kanan jalan.
Lalu berangkatlah Datu Dalu berburu babi hutan tersebut ke dalam hutan. Dia menghujamkan tombak tersebut ke tubuh Babi hutan itu. Sayangnya babi hutan itu tidak mati. Dia berhasil kabur dengan mata tombak menancap di tubuhnya.
Datu dalu bingung kemana harus mencari babi hutan tersebut. Sebab ia harus mencabut mata tombak tersebut sebelum mengembalikannya kepada saudaranya. Setelah lelah mencari namun tidak juga ketemu, akhirnya ia memutuskan untuk membuatkan mata tombak yang baru.
Sahang Maima merasa kalau Datu Dalu terlalu lama mengembalikan tombaknya. Dia lalu menemui Datu Dalu. Datu Dalu lalu menjelaskan kalau mata tombak itu terlepas dari gagangnya dan menempel di tubuh babi yang ia buru. Dan dia telah membuatkan mata yang baru sebagai gantinya. Tapi ternyata Sahang Maima tidak bisa terima.
“Barang itu tidak bisa hilang. Sebab itu adalah barang warisan.” Begitu alasan Sahang Maima.
“Saya tahu, bang. Tapi tombak itu kan sudah tua, kayunya sudah lapuk dan mata tombak itu sudah tidak menempel dengan kuat lagi. Wajarlah jika mata tombak itu terlepas.”
“Tidak boleh begitu. Barang yang kamu pinjam, itu yang harus kembali. Tidak boleh diganti dengan barang apapun. Bagaimana barang itu kamu pinjam, begitu pula barang itu harus kembali.” Kata Sahang Maima bersikeras.
Akhirnya Datu Dalu mengalah. Ia lalu pergi mencari babi hutan tersebut. Menurut cerita yang banyak dituliskan dalam buku-buku dan kitab sejarah orang batak, Datu Dalu turun ke Banua Toru untuk mencari petunjuk tentang keberadaan mata tombak itu.
Disana ia bertemu dengan seorang Gadis penumbuk padi yang sedang bertengkar dengan seorang wanita. Gadis penumbuk padi ini tidak sengaja membunuh ayam milik wanita ini ketika ia mengusir ayam tersebut. Wanita pemilik ayam tidak terima. Dia meminta gadis penumbuk padi ini untuk mengembalikan ayam itu dalam keadaan hidup. Gadis penumbuk padi itu menolak karena merasa permintaan si wanita tidak masuk akal.
Datu dalu lalu menghampiri gadis penumbuk padi itu. Datu dalu berjanji akan menolong si gadis penumbuk padi itu jika ia bersedia membantu Datu Dalu.
“Saya sedang mencari seekor babi hutan. Beberapa hari yang lalu saya menombaknya. Tetapi mata tombak saya tertinggal dan menempel di tubuhnya. Bisakah anda membantu saya mencari tahu dimana babi hutan itu berada ?”
“Di sana, di rumah yang berada di ujung desa itu, ada seorang nenek tua yang terluka terkena mata tombak. Kau bisa mendapatkan mata tombak mu disana.” Kata si gadis itu.
“Tapi yang saya tombak itu adalah babi hutan, bukan manusia.”
Lalu si gadis itu menjelaskan kalau nenek tua itu adalah siluman jahat yang bisa berubah menjadi apapun.
“Baiklah kalau begitu” kata si Gadis penumbuk padi. “Saya sudah membantu tuan, sekarang tolong buktikan kalau tuan bisa menepati janji tuan.”
Dengan kemampuan sihir yang dimilikinya, Datu Dalu berhasil menghidupkan kembali ayam tersebut. Setelah itu si Gadis penumbuk padi bersedia mengantarkan Datu Dalu ke rumah nenek tua itu. Disana Datu Dalu baru yakin kalau ternyata benar mata tombak yang menempel di tubuh nenek itu adalah mata tombak milik abangnya. Datu dalu kemudian mencabut mata tombak itu menggunakan sambilu. Sebelum pergi, Datu Dalu mengobati nenek tua itu. Sebagai balasannya nenek tua itu berjanji tidak akan pernah mengganggu desa Datu Dalu lagi. Akhirnya Datu Dalu berhasil mengembalikan mata tombak itu kepada abangnya. Dan sejak itu hubungan antara mereka mulai retak.
Suatu hari Sahang Maima sedang melakukan pesta di desanya. Istrinya pergi ke pasar melintasi kebun milik Datu Dalu. Ketika berada di kebun Datu Dalu, hujan deras turun. Istri Sahang maima lalu memotong selembar daun pisang untuk digunakan sebagai payung. Datu Dalu yang mengetahui hal tersebut marah besar lalu meminta istri Sahang Maima untuk mengembalikan daun pisang tersebut ke pohonnya seperti semula. Mendengar ucapan Datu Dalu, Sahang Maima berang.
“Aku tahu kamu dendam. Tetapi jika kau marah janganlah marah kepada istriku.” Kata Sahang Maima
“Bukankah abang yang bilang, barang yang diambil harus kembali seperti semula?” Kata Datu Dalu.
Maka terjadilah perang terbuka antara mereka berdua. Sahang Maima menerbangkan 7 tampi ke arah desa Datu Dalu. Mendengar suara menderu di langit, Datu Dalu mempersiapkan pertahanan. Dengan kemampuan sihirnya, ia menolak tampi-tampi itu dari desanya sehingga tidak ada satupun lesung yang jatuh di desanya. Datu Dalu kemudian membalas dengan menerbangkan 14 Alu (Andalu) ke arah desa Sahang Maima. Sahang Maima berhasil menolak seluruh Andalu tersebut sehingga semuanya jatuh di luar desanya.
Sahang Maima kembali melakukan perlawanan. 7 batang kayu api yang membara (sipu – sipu) diterbangkan untuk membumihanguskan desa Datu Dalu. Namun ternyata Datu Dalu berhasil menyingkirkan sipu-sipu itu sehingga tidak membakar desanya. Berikutnya Datu Dalu membalas dengan menerbangkan 14 sipu-sipu ke arah desa Sahang Maima namun juga berhasil ditolak.
Kemudian Sahang Maima menerbangkan 7 piring berisi serbuk beracun. Datu Dalu berhasil menghalaunya sehingga tidak jatuh di desanya. Datu Dalu lalu membalas dengan 14 piring berisi serbuk beracun. Tapi Sahang Maima berhasil menyingkirkannya.
Puncaknya Sahang Maima menerbangkan Lesung dengan sayap 7 tampi dan 7 piring berisi serbuk beracun ke arah desa Datu Dalu. Datu Dalu sendiri membalas dengan menerbangkan Lesung tujuh lobang berisi serbuk beracun dan bersayap 14 tampi. Kedua senjata mereka bertarung di langit menimbulkan suara gemuruh yang sangat memekakan telinga.
Kedua lesung tersebut kemudian jatuh. Satu jatuh di desa Sahang Maima dan satu lesung jatuh di Desa Datu Dalu. Seluruh warga yang panik lari berhamburan dari desa menyelamatkan diri. Serangan itu menimbulkan cekungan yang sangat besar di desa mereka. Warga sekitar menyebutnya ambar. Mereka menamainya Ambar Silosung dan Ambar Sipinggan. Sekarang ambar tersebut dapat ditemui di Lintong ni Huta, sebelah kiri Jalan Raya Siborong-borong – Dolok sanggul. Ambar Sipinggan berada di sisi kiri jalan sedangkan Ambar Silosung berada di sebelah kanan jalan.
Asal Mula Tongkat Tunggal Panaluan
Dahulu kala ada sebuah cerita yang berasal dari Pangururan, pulau Samosir tepatnya di desa Sidogor-dogor tinggallah seorang laki-laki bernama Guru Hatimbulan. Beliau adalah seorang dukun yang bergelar ‘Datu Arak ni Pane’. Istrinya bernama Nan Sindak Panaluan.
Telah sekian lama mereka menikah tetapi belum juga di karuniai keturunan. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tsb membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib(aneh), bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi masa kemarau dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, saking teriknya tak tertahankan, permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi kerak dan keras.
Melihat keadaan kemarau dan panas yg masih terjadi ini, membuat Raja Bius (head of Malim community) menjadi risau, lalu ia pergi menjumpai Guru Hatimbulan dan berkata kepadanya : “Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya kepada Debata Mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus berkepanjangan, hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya”. Lalu Guru Hatimbulan menjawab :”Semua ini mungkin saja terjadi”, lalu Raja Bius mengatakan :”Semua orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata bahwa kehamilannya itu sangat ganjil” , karena percakapan itu maka timbullah pertengkaran diantara mereka, tetapi tidak sampai ada perkelahian.
Di lain waktu tiba saatnya istri Guru Hatimbulan melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan, seketika itu juga maka hujan pun turun dgn lebatnya, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Untuk merayakan itu semua, lalu Guru Hatimbulan memotong seekor lembu serta untuk mendamaikan kekuasaan jahat.
Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan putranya diberi nama Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan.
Setelah usai pesta tsb, ada beberapa tamu yg telah menasehatkan Guru Hatimbulan supaya anak-anak itu jangan kiranya di asuh bersama-sama, yang satu kiranya di bawa ke barat dan yang satu lagi di bawa ke timur, sebab anak itu lahir kembar, dan juga berlainan jenis kelamin, hal ini sangat tidak menguntungkan menurut kata orangtua dulu.
Guru hatimbulan tidak memandang serta memperhatikan nasehat dari para penatua dan kepala kampung tsb. Setelah sekian lama terbuktilah apa yg dinasehatkan oleh para penatua itu dan benar adanya. Dilain waktu, Guru Hatimbulan pergi ke Pusuk buhit dan membuat sebuah gubuk disana, dan membawa anak-anaknya kesana.
Gubuk itu dijaga dgn seekor anjing dan setiap hari Guru Hatimbulan membawakan makanan untuk anaknya tsb. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu tanggulon(hau tadatada), pohon yang batangnya penuh dgn duri, dan mempunyai buah yg masak & manis.
Tongkat Tunggal Panaluan
Melihat buah pohon itu,maka timbullah hasratnya untuk memakannya, tetapi sebelum dia naik ke pohon itu, dia mengambil beberapa buah itu dan memakannya. Pada saat itu juga, dia tertelan dan menjadi satu dgn pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat(tersisa) . Di tempat lain abangnya Si Aji Donda Hatahutan gelisah menunggu adiknya pulang, kenapa sampai sore kok belum pulang juga adiknya, lalu dia pergi ke dalam hutan untuk menyelidikinya sambil berteriak memanggil-manggil nama adiknya itu. Saat dia sudah merasa letih, tiba-tiba dia mendengar jawaban dari adiknya dari pohon yg berdekatan dgn dia, dan adiknya menceritakan apa yg terjadi,sehingga dia tertelan oleh pohon tersebut.
Si Aji Donda memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dgn pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan paginya, anjing mereka lewat dan meloncat-loncat pd pohon tsb, lalu anjing itupun mengalami hal yg sama, tertelan oleh pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat.
Seperti biasa si Guru hatimbulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon tsb dan dimana dia hanya melihat kepala dua orang anak-anaknya dan anjing penjaga. Melihat hal itu dia menjadi sedih.
Dari info dan petunjuk yang dia cari maka bertemulah dia dengan seorang datu yg bernama Datu Parmanuk Koling, dia menceritakan kejadian itu dan mengajak datu itu ke pohon tsb untuk menolong anaknya, diiringi oleh banyak orang yg ingin melihat, karena kejadian ini sudah tersebar ke berbagai pelosok dan pemusik pun sudah dipanggil lalu si Datu memulai ritualnya, si datu berdoa dan membaca mantra untuk membujuk roh yg menawan anak si Guru hatimbulan, setelah upacara selesai maka naiklah si Datu Parmanuk koling ke pohon itu, tetapi hal yg sama juga terjadi, dia tertelan oleh pohon itu.
Guru Hatimbulan dan para penonton kembali ke rumah mereka dgn hati kecewa, tetapi mereka tidak putus asa , mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dgn mencari datu lain. Kemudian Guru hatimbulan mendengar kabar ada datu yg hebat, namanya Marangin Bosi atau Datu Mallantang Malitting. Orang itu pergi ke pohon tersebut, tetapi mengalami nasib yg sama.
Kemudian ada juga Datu Boru SiBaso Bolon, dia juga menjadi tawanan si pohon itu. Hal yang sama juga terjadi kepada Datu Horbo Marpaung, Si Aji Bahar(si Jolma so Begu) yang mana setengah manusia dan setengah iblis. Dan seekor ular pun di telan pohon itu. Guru hatimbulan sudah kehabisan akal,dan juga telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk keperluan pemusik(gondang) , pele-pelean, dan semua yg diminta para datu itu utk roh yg ada di pohon tsb.
Beberapa hari setelah itu, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang memberitahukan Guru Hatimbulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya dari tawanan pohon itu. Guru Hatimbulan mempercayai omongan si datu itu,dan menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu. Si datu berkata bahwa kita harus memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah (spirit of land), roh air(water), roh kayu(wood) dan lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua anak tsb.
Guru Hatimbulan mempersiapkan semua yg diperlukan oleh si datu utk upacara tsb sesuai dgn arahan si datu. Kemudian mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada senjata wasiatnya, lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yg ada di pohon tsb jadi menghilang, juga anjing dan ular yg tertelan pohon tsb. Semua orang yg menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru Hatimbulan: ‘Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yg ditelan oleh pohon ini”. Guru hatimbulan memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dgn bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, seekor anjing dan seekor ular.
Setelah selesai mengukir tongkat tsb menjadi 9 wajah, maka semua orang kembali ke kampung guru Hatimbulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dgn bunyi gong, dan juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yg di ukir dalam tongkat tsb. Setelah Guru Hatimbulan selesai manortor maka tongkat itu diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Setelah itu baru datu Parpansa Ginjang manortor(menari), melalui tortor ini dia kesurupan(siar- siaron) dirasuki roh-roh dari orang2 yg pernah ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari:
1. Si Aji Donda Hatahutan.
2. Siboru Tapi Nauasan.
3. Datu Pulo Punjung nauli, atau si Melbus-elbus.
4. Guru Manggantar porang.
5. Si Sanggar Maolaol.
6. Si Upar mangalele.
7. Barita Songkar Pangururan.
Dan mereka berkata, “Wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari wajah kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam, kami mengutuk kamu, wahai pemahat!. Si datu menjawab, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini aku tidak dapat mengukir wajah kalian”. Tetapi si pisau berbalik membalas, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi, kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau”. Si tukang besi pun tidak ingin disalahkan lalu berkata, “Jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi”. Angin pun menjawab,”Jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru hatimbulan”. ketika semua tertuju pada Guru hatimbulan, maka roh itu berkata melalui si datu, “Aku mengutukmu, Ayah dan juga kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku”.
Ketika Guru Hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik, “Jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan”.
Lalu Roh itu berkata: “Baiklah, biarlah begini adanya, ayah, dan gunakanlah aku untuk: menahan hujan, memanggil hujan pada waktu musim kering, senjata di waktu perang, mengobati penyakit, menangkap pencuri, dll. Setelah upacara itu, maka pulanglah mereka masing-masing. Adapun tinggi tongkat Tunggal Panaluan sekitar 170 cm dan biasanya dimiliki oleh Datu bolon(dukun besar).
Telah sekian lama mereka menikah tetapi belum juga di karuniai keturunan. Suatu ketika perempuan itu hamil setelah begitu lamanya mereka menunggu, kehamilan tsb membuat heran semua penduduk kampung itu dan menganggap keadaan itu hal yang gaib(aneh), bersamaan pada saat itu juga sedang terjadi masa kemarau dan paceklik, cuaca sangat panas dan kering, saking teriknya tak tertahankan, permukaan tanah dan rawa-rawa pun menjadi kerak dan keras.
Melihat keadaan kemarau dan panas yg masih terjadi ini, membuat Raja Bius (head of Malim community) menjadi risau, lalu ia pergi menjumpai Guru Hatimbulan dan berkata kepadanya : “Mungkin ada baiknya kita mencari sebabnya dan bertanya kepada Debata Mulajadi Nabolon, mengapa panas dan kemarau ini masih terus berkepanjangan, hal ini sangat jarang terjadi sebelumnya”. Lalu Guru Hatimbulan menjawab :”Semua ini mungkin saja terjadi”, lalu Raja Bius mengatakan :”Semua orang kampung heran mengapa istrimu begitu lama baru hamil, mereka berkata bahwa kehamilannya itu sangat ganjil” , karena percakapan itu maka timbullah pertengkaran diantara mereka, tetapi tidak sampai ada perkelahian.
Di lain waktu tiba saatnya istri Guru Hatimbulan melahirkan, perempuan itu melahirkan anak kembar, seorang anak laki-laki dan perempuan, seketika itu juga maka hujan pun turun dgn lebatnya, maka semua tanam-tanaman dan pepohonan nampak segar kembali dan keadaan menjadi hijau lagi. Untuk merayakan itu semua, lalu Guru Hatimbulan memotong seekor lembu serta untuk mendamaikan kekuasaan jahat.
Ia juga mengundang semua penatua-penatua dan kepala-kepala kampung dalam perjamuan itu, dimana nama anak-anak itu akan di umumkan putranya diberi nama Si Aji Donda Hatahutan dan putrinya itu di beri nama Si Boru Tapi Nauasan.
Setelah usai pesta tsb, ada beberapa tamu yg telah menasehatkan Guru Hatimbulan supaya anak-anak itu jangan kiranya di asuh bersama-sama, yang satu kiranya di bawa ke barat dan yang satu lagi di bawa ke timur, sebab anak itu lahir kembar, dan juga berlainan jenis kelamin, hal ini sangat tidak menguntungkan menurut kata orangtua dulu.
Guru hatimbulan tidak memandang serta memperhatikan nasehat dari para penatua dan kepala kampung tsb. Setelah sekian lama terbuktilah apa yg dinasehatkan oleh para penatua itu dan benar adanya. Dilain waktu, Guru Hatimbulan pergi ke Pusuk buhit dan membuat sebuah gubuk disana, dan membawa anak-anaknya kesana.
Gubuk itu dijaga dgn seekor anjing dan setiap hari Guru Hatimbulan membawakan makanan untuk anaknya tsb. Setelah anak-anaknya bertumbuh menjadi besar, pergilah putrinya jalan-jalan ke hutan lalu dilihatnya sebuah pohon yaitu pohon piu-piu tanggulon(hau tadatada), pohon yang batangnya penuh dgn duri, dan mempunyai buah yg masak & manis.
Tongkat Tunggal Panaluan
Melihat buah pohon itu,maka timbullah hasratnya untuk memakannya, tetapi sebelum dia naik ke pohon itu, dia mengambil beberapa buah itu dan memakannya. Pada saat itu juga, dia tertelan dan menjadi satu dgn pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat(tersisa) . Di tempat lain abangnya Si Aji Donda Hatahutan gelisah menunggu adiknya pulang, kenapa sampai sore kok belum pulang juga adiknya, lalu dia pergi ke dalam hutan untuk menyelidikinya sambil berteriak memanggil-manggil nama adiknya itu. Saat dia sudah merasa letih, tiba-tiba dia mendengar jawaban dari adiknya dari pohon yg berdekatan dgn dia, dan adiknya menceritakan apa yg terjadi,sehingga dia tertelan oleh pohon tersebut.
Si Aji Donda memanjat pohon itu, tetapi dia pun ikut ditelan dan menjadi satu dgn pohon itu. Keduanya menangis untuk meminta tolong, tetapi suara mereka hilang begitu saja di dalam gelapnya hutan. Keesokan paginya, anjing mereka lewat dan meloncat-loncat pd pohon tsb, lalu anjing itupun mengalami hal yg sama, tertelan oleh pohon itu hanya kepalanya saja yg terlihat.
Seperti biasa si Guru hatimbulan datang ke gubuk anaknya untuk membawakan mereka makanan, tapi dia tidak menemui mereka, lalu dia mencari dan mengikuti jejak kaki anaknya ke dalam hutan, sampai pada akhirnya dia menemui pohon tsb dan dimana dia hanya melihat kepala dua orang anak-anaknya dan anjing penjaga. Melihat hal itu dia menjadi sedih.
Dari info dan petunjuk yang dia cari maka bertemulah dia dengan seorang datu yg bernama Datu Parmanuk Koling, dia menceritakan kejadian itu dan mengajak datu itu ke pohon tsb untuk menolong anaknya, diiringi oleh banyak orang yg ingin melihat, karena kejadian ini sudah tersebar ke berbagai pelosok dan pemusik pun sudah dipanggil lalu si Datu memulai ritualnya, si datu berdoa dan membaca mantra untuk membujuk roh yg menawan anak si Guru hatimbulan, setelah upacara selesai maka naiklah si Datu Parmanuk koling ke pohon itu, tetapi hal yg sama juga terjadi, dia tertelan oleh pohon itu.
Guru Hatimbulan dan para penonton kembali ke rumah mereka dgn hati kecewa, tetapi mereka tidak putus asa , mereka tetap berusaha mencari jalan keluarnya dgn mencari datu lain. Kemudian Guru hatimbulan mendengar kabar ada datu yg hebat, namanya Marangin Bosi atau Datu Mallantang Malitting. Orang itu pergi ke pohon tersebut, tetapi mengalami nasib yg sama.
Kemudian ada juga Datu Boru SiBaso Bolon, dia juga menjadi tawanan si pohon itu. Hal yang sama juga terjadi kepada Datu Horbo Marpaung, Si Aji Bahar(si Jolma so Begu) yang mana setengah manusia dan setengah iblis. Dan seekor ular pun di telan pohon itu. Guru hatimbulan sudah kehabisan akal,dan juga telah mengeluarkan begitu banyak uang untuk keperluan pemusik(gondang) , pele-pelean, dan semua yg diminta para datu itu utk roh yg ada di pohon tsb.
Beberapa hari setelah itu, seorang datu, bernama Si Parpansa Ginjang memberitahukan Guru Hatimbulan bahwa dia dapat membebaskan kedua anaknya dari tawanan pohon itu. Guru Hatimbulan mempercayai omongan si datu itu,dan menyediakan semua apa yang diminta oleh si datu. Si datu berkata bahwa kita harus memberikan persembahan kepada semua roh, roh tanah (spirit of land), roh air(water), roh kayu(wood) dan lainnya baru kemudian bisa membebaskan kedua anak tsb.
Guru Hatimbulan mempersiapkan semua yg diperlukan oleh si datu utk upacara tsb sesuai dgn arahan si datu. Kemudian mereka pergi menemui pohon itu disertai oleh orang kampung sekitarnya. Setelah si datu selesai memberikan mantra kepada senjata wasiatnya, lalu dia menebang pohon itu tetapi semua kepala orang yg ada di pohon tsb jadi menghilang, juga anjing dan ular yg tertelan pohon tsb. Semua orang yg menyaksikan seperti terperanjat, lalu si datu berkata kepada Guru Hatimbulan: ‘Potonglah pohon itu menjadi beberapa bagian dan ukirlah gambaran dari orang-orang yg ditelan oleh pohon ini”. Guru hatimbulan memotong batang pohon itu menjadi beberapa bagian dan mengukirnya menjadi sebuah tongkat dgn bentuk 5 orang lelaki, 2 orang anaknya, seekor anjing dan seekor ular.
Setelah selesai mengukir tongkat tsb menjadi 9 wajah, maka semua orang kembali ke kampung guru Hatimbulan, ketika mereka tiba di kampung ditandai dgn bunyi gong, dan juga mengorbankan seekor lembu untuk menghormati mereka yg di ukir dalam tongkat tsb. Setelah Guru Hatimbulan selesai manortor maka tongkat itu diletakkan membelakangi muka lumbung padi. Setelah itu baru datu Parpansa Ginjang manortor(menari), melalui tortor ini dia kesurupan(siar- siaron) dirasuki roh-roh dari orang2 yg pernah ditelan pohon itu dan mulai berbicara satu-persatu, mereka adalah roh dari:
1. Si Aji Donda Hatahutan.
2. Siboru Tapi Nauasan.
3. Datu Pulo Punjung nauli, atau si Melbus-elbus.
4. Guru Manggantar porang.
5. Si Sanggar Maolaol.
6. Si Upar mangalele.
7. Barita Songkar Pangururan.
Dan mereka berkata, “Wahai bapak pemahat, kau telah membuat ukiran dari wajah kami semua dan kami punya mata, tetapi tidak bisa melihat, kami punya mulut tetapi tidak bisa bicara, kami punya telinga tapi tidak mendengar, kami punya tangan tapi tidak bisa menggenggam, kami mengutuk kamu, wahai pemahat!. Si datu menjawab, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah pisau ini tanpa pisau ini aku tidak dapat mengukir wajah kalian”. Tetapi si pisau berbalik membalas, “Jangan kutuk aku, tetapi kutuklah si tukang besi, kalau saja dia tidak menempa aku menjadi pisau, aku tidak akan pernah menjadi pisau”. Si tukang besi pun tidak ingin disalahkan lalu berkata, “Jangan kutuk aku tapi kutuklah Angin, tanpa angin aku tidak dapat menempa besi”. Angin pun menjawab,”Jangan kutuk kami tapi kutuklah si Guru hatimbulan”. ketika semua tertuju pada Guru hatimbulan, maka roh itu berkata melalui si datu, “Aku mengutukmu, Ayah dan juga kamu Ibu, yaitu yang melahirkan aku”.
Ketika Guru Hatimbulan mendengar itu, dia menjawab balik, “Jangan kutuk aku tetapi kutuklah dirimu sendiri. Kau yang jatuh ke dalam lubang dan terbunuh oleh pisau dan kamu tidak mempunyai keturunan”.
Lalu Roh itu berkata: “Baiklah, biarlah begini adanya, ayah, dan gunakanlah aku untuk: menahan hujan, memanggil hujan pada waktu musim kering, senjata di waktu perang, mengobati penyakit, menangkap pencuri, dll. Setelah upacara itu, maka pulanglah mereka masing-masing. Adapun tinggi tongkat Tunggal Panaluan sekitar 170 cm dan biasanya dimiliki oleh Datu bolon(dukun besar).
Simardan-Kisah sang anak Durhaka
Simardan adalah salahsatu legenda dari tanah batak yang cukup terkenal. Dikisahkan seorang anak bernama Simardan yang berasal dari Tapanuli Selatan pergi merantau dan menjadi orang kaya namun sayang akhirnya lupa kepada orang tua dan asal usulnya.
Simardan adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Ayahnya meninggal ketika ia masih kecil. Suatu hari simardan bermimpi mendatangi sebuah tempat. Keesokan harinya ia pergi mendatangi tempat tersebut dan benar saja, ia mendapatkan harta karun yang tak ternilai harganya disana. Dengan harta tersebut kemudian ia pergi ke Malaysia (konon katanya ke daerah penang) untuk mencari peruntungan.
Disana ia hidup sukses dan berhasil m
enikahi putri seorang raja. Akhirnya simardan hidup dalam kemewahan sampai sisa hidupnya.
Suatu hari ia berlayar ke daerah Tapanuli Selatan, tepatnya ke Tanjung Balai, kampung halamannya. Sebenarnya ia enggan mendatangi tempat tersebut tapi kerena desakan sang istri akhirnya ia menurut.
Sesampainya di tanjung balai, orang orang berbondong – bondong mendatanginya. Sebagian orang yang masih mengenalinya memberitakan kepada ibunya bahwa anaknya simardan yang lama merantau sekarang sudah kembali.
Sayang seribu sayang… si mardan ternyata tidak mau lagi mengakui ibunya. Ia tidak mau mengakui masa la
lunya sebagai orang miskin karena termakan ucapan yang dulu pernah digunakannya untuk mengelabui raja Penang.
Setelah diperlakukan kasar oleh Simardan, wanita tua itu lalu berdoa sembari memegang payudaranya. “Kalau dia adalah anakku, tunjukkanlah kebesaran-Mu,” begitulah kira-kira yang diucapkan ibu Simardan. Usai berdoa, turun angin kencang disertai ombak yang mengarah ke kapal layar, sehingga kapal tersebut hancur berantakan. Sedangkan tubuh Simardan, menurut cerita, tenggelam dan berubah menjadi sebuah pulau bernama Simardan.
Para pelayan dan isterinya berubah menjadi kera putih, kata Daem dan Marpaung. Hal ini disebabkan para pelayan dan isterinya tidak ada kaitan dengan sikap durhaka Simardan kepada ibunya. Mereka diberikan tempat hidup di hutan Pulau Simardan. Sekitar empat puluh tahun lalu, masih ditemukan kera putih yang diduga jelmaan para pelayan dan isteri Simardan. Namun, akibat bertambahnya populasi manusia di Tanjungbalai khususnya di Pulau Simardan, kera putih itu tidak pernah terlihat lagi.
Di sebuah Dusun yang bernama Hau Napitu, Desa Buntu Maraja Kec.Bandar Pulau Kab.Asahan Propinsi Sumatera Utara, terdapat tugu yang menceritakan sekilas keberadaan Ibu dari Simardan, dan Tugu ini ,merupakan Tugu Peringatan dan Sekaligus tempat Ibu Simardan dikuburkan.Konon menurut orangtua di Desa ini bahwa Ibunda Simardan meninggal dunia dalam perjalanan menuju pulang ke Porsea setelah ia tidak di akui oleh Simardan sebagai Ibu Kandungnya.Dengan berjalan kaki puluhan kilometer dalam perjalan pulang inilah Ibunda Simardan tidak kuat lagi meneruskan perjalanan hingga ia meninggal di tengah perjalanannya.Atas inisiatif penduduk maka tempat di mana Ibunda Simardan meninggal, di bangunlah tugu di atas kuburannya kiranya peristiwa semacam itu menjadi peringatan bagi mereka yang suka memandang rendah orangtuanya dan selalu berbuat durhaka. Mari kita lihat tugu ini:
Tugu Simardan
Pada tugu ini tertera tulisan:
Sada tugu sejarah, ima inongni Simardan naturun sian porsea,manopoti ima Simardan di Tanjung Bale.Sahat ma i jabuni ni Simardan, i jou ma Simardan.Marbalosma Simardan dang inong songokko inokku.Anggo tung ima balosmu, mulak ma au tu Porsea.Sippulma hangoluanmu dison.
Kira-kira artinya:
Ini adalah sebuah tugu sejarah mengenai Ibundanya Simardan yang datang dari Porsea mendapatkan (akan mengunjungi) Simardan di Tanjung Balai.Tibalah ia di rumah Simardan dan dipanggillah Simardan.
Simardan membalas ” bukan Ibu macam kau ibuku”.(lantas Ibunda Simardan berkata) Kalau itulah balasanmu, pulanglah aku ke Porsea, terikat lah hidupmu sini.
Langganan:
Postingan (Atom)